Cerita Langit

Rukyatul Hilal_Kebumen

[slideshow]
FIRST TIME!
Tepat tanggal 30 Agustus 2011, akhirnya aku bisa merasakan betapa serunya rukyatul hilal bersama masyarakat luar. Mungkin orang akan beranggapan ini biasa saja, tapi bagiku itu sesuatu yang amat mengesankan. Saat itu aku duduk di kelas 3 SMA. Ilmuku tentang ilmu falak pun belum seberapa. Apalagi mengenai rukyatul hilal. Biasanya kan kalau di Assalaam, yang membimbing Ust AR, nah ini.. bener-bener terjun langsung.
Awalnya aku cari relasi ahli astronomi, eh pas nyari-nyari, ternyata ada yang salnya dari Kebumen. Nama beliau, Pak MA’rufin Sudibyo. Setelah itu, aku memperkenalkan diri, dan akhirnya aku kenal dengan beliau. Hingga akhir bulan Ramadhan, RHI Kebumen mengadakan rukyatul hilal di pantai Logending.
“Wah kesempatan nih!”
Aku pun mengajak keluargaku untuk ke lokasi tersebut. Yah, sekalian menunjukkan tentang bagaimana rukyatul hilal itu. Sesampai disana, sebelum rukyah hilal dimulai,ada observasi melihat matahari. Yang membuatku kaget, alat yang digunakan untuk melihat matahari itu, tidak seperti apa yang kita pakai waktu di assalaam. Sampai sekarang, aku belum tahu namanya. Dan itu sebuah ilmu baru buatku. Ayah, Ibu, adik-adik, dan sepupu-sepupuku mencoba menggunakannya. Sesuai ilmu yang telah diajarkan oleh Ust AR, aku pun berkata ketika mengintip matahari dengan alat tersebut.
“Pak, itu bukannya sunspot ya?”
Bapaknya pun kaget, bahkan heran.
“Masa sih mbak? kalau begitu, bisa minta tolong gambarkan sekaligus disesuaikan dengan koorinatnya?”
Hayo loh zif, masa kayak gini aja gak bisa? ayo tunjukin hebatnya anak CASA. Wah, dengan sigap aku langsung menggambarkan titik sunspot di blocknote yang telah beliau berikan.
Setelah itu, Pak Ma’rufin pun datang. Beliau yang menjadi pengisi pada rukyatul hilal sore ini. Aku menghampiri beliau dan kembali memperkenalkan diri. Acara inti pun dimulai, beliau bertanya padaku,”bawa kamera gak mbak? SLR?”..
Alhamdulillahnya, sepupuku membawa kamera pintarnya. Dipakailah kamera itu untuk memotret hilal. Beliau pun bertanya lagi, “bisa makainya kan?”. Seingetku, selama aku menjadi anggota CASA, aku sama sekali belum mendapatkan ilmu tentang memotret hilal. SLR? bisa make aja udah seneng. Nah ini, seneng sih seneng tapi bikin deg-deg an. Inikan buat laporan di sidang isbat nanti. Aku menjawab secara terus terang,”tapi pak, saya gak ahli.” Jawaban itu bukanlah akhir dari argumenku, karena beliau pun kembali menyatakan sebuah kalimat,”Ah, saya percaya sama anak CASA.”
Pak, pak. Ini nih baru pertama kalinya. Dengan PD, aku pun yakin, bahwa ini pasti mudah. Beliau pun menjelaskan tentang iso nya, dan pengaturan-pengaturan yang berkenaan dengan pemotretan hilal menggunakan kamera tersebut.
Acara inti dimulai. Beliau, aku, dan sepupuku, maju kedepan mengambil posisi yang tepat untuk pengamatan hilal. Sambil menunggu penjelasan Pak Ma’rufin kepada masyarakat mengenai hilal ini, aku pun berdoa. -Ya Alloh, semoga aku gak salah motret-. Sekitar 7 menit pengamatan hilal berlangsung. Ternyata, tak ada satupun orang yang melihat hilal. Lalu, bagaimana sidang isbat nanti malam? itu yang aku tunggu. Ilmu yang aku dapatkan semasa menjadi anggota CASA, bisa aku terapin disini. Apalagi mengenai confidence nya. Wedeh, mantep bangetlah, rasanya beda banget kalau ilmu yang kita punya itu bisa bermanfaat di masyarakat luas. Buat temen-temen, Sebarkan ilmu yang kalian punya ya.. Akan ada kepuasan tersendiri jika ilmu kita bisa disebarkan dimana-mana. Keep Spirit! !حمسة

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!