Sastra dan seisinya

Experiences, feels, i describe with prose

  • Sastra dan seisinya

    Perkenalkan!

    Pernah mendengar cerita tentang sesuatu yang paling mudah dilupakan? Ia selalu membersamai kita tapi tidak dirasa kehadirannya. Saking lupanya, lama-lama ia sekadar formalitas untuk singgah menyapa, meski tau betul bahwa tidak akan dianggap. Ia berbakti menjalankan tugas dari Sang Penguasa untuk terus berada di sisi kita. Perkenalkan, ia adalah apa yang kita sebut “kebaikan”. Setiap ia hadir, seringkali kita tersipu malu dibuatnya. Belum lagi radar tubuh terlukis jelas menyambut setiap kehadirannya. Kebaikan ini tak pernah letih untuk menemani. Dimulai dari yang mungkin berdurasi kurang dari 5 menit, 30 menit, sampai berjam-jam, kebaikan datang lagi dan lagi. Selain membuat hari-hari jadi lebih indah, adanya kebaikan ternyata membuat nafsu makan kita meningkat.…

  • Sastra dan seisinya

    Hati di Musim Kemarau

    “Tentang hari yang tak letih-letihnya menyaksikan kami saling mengalihkan pandangan. Rasanya kesal dan sesal. Dia yang mulai, tapi kenapa harus aku yang menunggu? Tentang angin yang terasa menusuk di di punggung. Buatnya, mungkin aku terlalu banyak mengeluh. Menginginkan ini dan itu, juga lagi dan lagi. Dia yang salah, tapi kenapa aku yang disalahkan? Berhari-hari seakan dalam penantian yang telah diketahui akhirnya. Untuk apa berharap bila tidak ada yang berusaha? Berdiam untuk menemani pun menjadi salah. Tak ada kata yang ingin diucapkan. Mungkin dia bingung, dan aku sudah terlanjur lelah. Sampai sekarang kamu masih tidak mau mengerti.” Tulisan ini hanyalah untaian putus asa yang tak berpemilik. Semakin lama diingat, semakin panjang…

  • Puisi (Aku dan Kamu)

    Senja Berkabut (2)

    Suatu hari, setelah melewati kabut tebal, senja masih gigih untuk menghempaskan kabut tersebut. Seseorang yang tadinya tidak menyadarinya, bergulat dengan prasangka, menutup mata dengan emosi, kini perlahan ikut melewati balutan kabut. Bagaimana jika seseorang yang kita pilukan ternyata menyimpan begitu besar penghargaan untuk kita? Kamu ternyata memang tidak pandai mengutarakan perasaan, tidak pandai mengekspresikan perilaku, begitu juga dengan menyampaikan hatimu padaku. aku yang harus melihat celah itu, aku yang harus mengusir dilema burukku, Ternyata, aku hanya harus menatap kelembutan dan ketulusanmu dalam menghargaiku.   15 Januari 2022

  • Puisi (Aku dan Kamu)

    Senja Berkabut

    Rasanya selalu menyenangkan melihat senja keunguan kemudian esoknya berganti menjadi senja keemasan. Perubahan warna senja buatku menjadi rona warna kehidupan apalagi rumah tangga. Sudah 6 tahun aku menjalani peranku sebagai istri sekaligus ibu dari kedua anakku. Dari yang malu-malu sampai terang-terangan, dari yang bahagia itu sederhana sampai rasa sesak menghadapi keabaian, dari yang 500 ribu sampai 3 juta 800 ribu. Dari yang orang-orang disekitarku hanya mempercayai perkataanmu sedangkan aku bukanlah siapa-siapa. Dari yang kesungguhanku menyampaikan pendapat dan saran, tapi tidak diindahkan olehmu, dan berujung akulah satu-satunya yang tidak bijaksana. Tidak melulu, tapi selalu teringat. Semua ini bersarang pada sudut ruang di hatiku. Sehingga senja, terasa berkabut. Aku bukanlah perempuan sempurna.…

  • Cerita Ibu Anak,  Sastra dan seisinya

    Setiap Anak Punya Sisi Spesial

    Sudah beberapa bulan ini sering baper karena melihat status teman-teman. Apalagi melihat tumbuh kembang anak-anaknya. Ada yang baru 2tahun udah pinter toilet trainingnya, ada yang umur 3 tahun udang bisamengerjakan aktivitas menulis darienulis abjad, sampai bahkan usia 4 tahun udah lancar baca. Ada juga yang sudah pintar menghafal surat pendek, pintar ngocehnya, dan sebagainya. Dari sekian banyak kebaperan itu, aku jadi intropeksi diri, apakah aku yang sebagai ibu tidak pandai dalam mendidik anak-anak? Atau memang anakku yang kurang pintar? Apa ga terlalu terburu-buru meminta anak untuk belajar? Banyak pertanyaan yang muncul. Banyak pula aku sharing ke sesama kawan danembaca tulisan parenting. Dan jawabannya pun beda-beda. Ada yang tergantung anaknya, kalau…

  • Sastra dan seisinya

    Aku Di sudut Ruangan

    Entah kenapa setiap kebersamaan ada rasa yang tidak diharapkan kehadirannya. Dari sekian banyak bahagia, rasa kesal hadir tanpa permisi. Kemudian melenyapkan kebahagiaan. Kenapa saat bersama kemudian mengobrol dengan niat untuk mendekatkan, namun perlahan justru malah menjauh? Di sudut rumah, aku tidak bisa memahami dengan situasi kebersamaan. Aku belum bisa mengerti dengan perasaanku, ketika ramai berkumpul dengan banyak orang. Pada akhirnya ada saja perkataan yang meleset dan membuat luka. Jujur, aku lebih senang dengan berdua. Jarang sekali aku memahami itu dengan bercanda. Kenapa aku harus membuat itu jadi obrolan serius? Apa memang serius tapi aku harus berpura-pura tidak peduli agar tidak menjadi jauh? Berapa banyak rasa iba yang akhirnya menumpuk dan…

  • Cerita Ibu Anak,  Sastra dan seisinya

    Ibu dino dan anaknya

    Seang mencari karakter yang tepat untuk diriku saat ini. Seseorang yang tak lagi berpikir tuk lelah meski payah. Seseorang yang tak lagi berpikir tuk gaya meski beda. Seseorang yang tak lagi berpikir tuk penampilan meski bosan. Seseorang yang tak lagi berpikir tuk selamat meski penat. Seseorang yang tak lagi berpikir tuk jeda meski reda. Tak ada yang namanya pengalihan isu jika di dunia ini tak ingin bisu. Sedangkan saat realita didepan mata mendadak buta. Aku dan juga anakku, bayibayi yang selalu ada untuk menyuarakan rasa. Senang, sedih, bangga, kecewa. Kuajarkan sejakkecil. Jangan dipendam, jangan diam. Itu yang membuatmu sakit. Sampaikan, meski tak ada yang mendengar, sampaikan meski hanya acuh yang…

  • Puisi (Aku dan Kamu)

    Kamu Cantik

    Saat kita tersesat di suatu malam dan terpisah dari semua orang Istriku, tak terkira aku merasakan cinta barumu dirumah ini. Kau telah Surga kami dengan Rasa keibuanmu Dan di sini, aku dan anakĀ² berada di samping orang yang paling berharga. Aku berada di samping orang yang paling cantik. Sayang, malam ini, mari lupakan semua yang sudah lewat. Tetaplah di pelukanku dan tenangkan kami. Kalian, sama berharganya dengan sisa hidupku. Tidak ada orang lain untukku selain kau dan keturunanmu, setidaknya itu alasanku menjalani hidup. Sayang, tahun-tahun terbaik akan datang kedepan. Dan setiap hari, dengan izin Allah, Kita akan menjadi lebih baik. Sayang, Peluk tanganku Supaya aku tetap tangguh megarungi gelapnya semesta.…

  • Puisi (Aku dan Kamu)

    Kamu

    Aku dan kamu Meski kini ada dia si kecil periang Meski kini ada dia si kecil lugu Bagiku dalam tidurku, Hanya ada kamu dalam dekap malamku Aku dan kamu Meski aku tahu bahwa kamu adalah lelaki pemalu Meski aku tahu bahwa kamu adalah lelaki pekerja keras Di tiap harinya jalan jauh menerjang lembah dan bukit melawan ego dan emosi di rumah maupun di kantor Aku dan kamu Meski aku tahu bahwa Alloh lah perencana segalanya Mesi kelak suatu saat nanti rasa diantara kita mulai pudar, Aku hanya ingin ada ungkapan, ucapan, dan tingkah laku, yang membuatku terhibur di sela sepinya kasih sayang antar kekasih… Aku hanya ingin kamu tahu bahwa…

  • Sastra dan seisinya

    (Me)Pengaruh(I)

    Apa yang membuat kini banyak sekali perempuan dengan bangga mengatakan bahwa dirinya adalah muslimah feminis? Jujur buatku, ini justru lebih membahayakan. Bisa jadi dia tidak betul2 paham tentang paham feminise itu sendiri atau bahkan agamanya sendiri. Akhir-akhir ini seringkali muncul di dunia medsos tentang berbagai argumen mereka ttg paham feminisme, atau malah paham ttg muslimah feminis. Yang jelas dulu RA kartini meng-emansipasikan wanita sebatas dari sudut ingin memajukan dari segi pendidikan dan tidak semena-mena dijajah karna berbatas gender perempuan. Mungkin, dari kita sejak emansipasi itu mulailah keinginan2 emansipasi lainnya. Seperti keinginan agar tidak dipermasalahkan tentang keotoritasan tubuh perempuan namun ingin diakui penuntutannya jika tidak sesuai dengan keotoritasan tubuh perempuan itu…

error: Content is protected !!