Sastra dan seisinya

Perkenalkan!

Pernah mendengar cerita tentang sesuatu yang paling mudah dilupakan? Ia selalu membersamai kita tapi tidak dirasa kehadirannya. Saking lupanya, lama-lama ia sekadar formalitas untuk singgah menyapa, meski tau betul bahwa tidak akan dianggap. Ia berbakti menjalankan tugas dari Sang Penguasa untuk terus berada di sisi kita.

Perkenalkan, ia adalah apa yang kita sebut “kebaikan”. Setiap ia hadir, seringkali kita tersipu malu dibuatnya. Belum lagi radar tubuh terlukis jelas menyambut setiap kehadirannya. Kebaikan ini tak pernah letih untuk menemani. Dimulai dari yang mungkin berdurasi kurang dari 5 menit, 30 menit, sampai berjam-jam, kebaikan datang lagi dan lagi. Selain membuat hari-hari jadi lebih indah, adanya kebaikan ternyata membuat nafsu makan kita meningkat. Dari yang cukup dengan rebahan, kini beranjak dari kasur dan segera memasak omelet ala chef hotel. Segudang energi positif yang muncul dari hadirnya kebaikan.

Suatu hari, hati dilanda kemarau. Kebaikan tetap hadir dan menekan pilu para hati. Herannya, kebaikan yang tepat disampingnya, semakin tidak terasa. Bagi hati, kebaikan pergi menjauh. Entah mengapa kebaikan apapun yang hadir, meski didepan matanya, tetap berlalu dan terlupa. Apa itu nasib dari kebaikan? Dinanti untuk dilupakan.

Tidak perlulah kebaikan mendeklarasikan nasibnya. Bagi takdir, itu pilihan hati. Apakah hati akan berusaha keras untuk mengingat kebaikan yang tulus? atau sengaja melupakan karena tak ada yang berarti dihatinya. Memang kejam hati ini. Sekalinya datang kemarau, ia tak segan untuk mengeringkan dirinya hingga menajdi batu.

Untuk kamu yang menyayangi hati, buatlah ia bersemai. Apapun, mungkin hujan bisa membantu.

 

Juli, 2022

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!