Puisi (Aku dan Kamu)

Senja Berkabut (2)

Suatu hari, setelah melewati kabut tebal, senja masih gigih untuk menghempaskan kabut tersebut. Seseorang yang tadinya tidak menyadarinya, bergulat dengan prasangka, menutup mata dengan emosi, kini perlahan ikut melewati balutan kabut.

Bagaimana jika seseorang yang kita pilukan ternyata menyimpan begitu besar penghargaan untuk kita?

Kamu ternyata memang tidak pandai mengutarakan perasaan, tidak pandai mengekspresikan perilaku, begitu juga dengan menyampaikan hatimu padaku.

aku yang harus melihat celah itu,

aku yang harus mengusir dilema burukku,

Ternyata, aku hanya harus menatap kelembutan dan ketulusanmu dalam menghargaiku.

 

15 Januari 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!