Sastra dan seisinya

Idam (n;v)

Saya telah merasakan semua bentuk arti dari kata idam: memiliki idaman, menjadi idaman, dan juga ngidam. Tiga arti yang masing-masing memiliki cerita tersendiri.

Idaman (n.)

Memiliki idaman sudah pasti pernah dialami oleh orang banyak. Seperti saya yang sejak kecil sudah punya tipe seseorang yang saya idam-idamkan. Ingat, idaman itu bukan hanya tentang pasangan hidup. Saat itu yang saya idamkan adalah tetangga saya. Seorang perempuan belia yang cantik dan juga selalu bersemangat menuntut ilmu. Hal yang paling saya suka adalah keceriaannya yang selalu mengisi waku bermain saya di sore hari. Hingga akhirnya saya harus pindah ke luar kota dan tidak pernah lagi bertemu dengannya. Beranjak menjadi anak sekolahan tingkat SD, yang saya idamkan adalah seorang guru ngaji. Beliau adalah kakek lucu yang tersohor di kampung kami. Segudang ceritanya membuat saya betah untuk berangkat mengaji setiap sore. Karena saya akan selalu penasaran dengan cerita-cerita ‘mbah’ setiap harinya. Kemudian di SMP, saya bertemu dengan guru Insya’. Wibawanya, ketekunannya, dan cara mengajarnya membuat saya terpwsona dengan setiap perkatannya. Sihir mata dan batin membuat saya bertekad untuk terus belajar bersama beliau. Ragam pesan yang beliau tuturkan, tanpa perlu izin sudah masuk ke alam bawah sadar saya. Dan karena beliau jugalah saya tidak pernah melepas kontak dengan guru-guru saya. Bahkan ketika SMA, sempat bergurau untuk menjadi penghulu saya nanti ketika menikah. Namun takdir berkata lain. Kini beliau sudah bahagia di surga. 

Ketika saya dihampiri oleh masalah cinta, maka jika ditanya tentang siapa tipe idaman pendamping hidupmu kelak? Maka jawabannya satu, Ayah. Saya tahu bahwa tidak ada Ayah di dunia ini yang sempurna, begitu juga dengan tidak ada di dunia ini pasangan hidup yang sempurna. Sempurna harapan dan idaman seperti yang kamu impikan. Tapi dengan melihat seorang Ayah, saya menjadi mantap bahwa lelaki yang akan saya pilih adalah sosok yang bijaksana seperti Ayah. Dan tidak ada basa-basi lagi, Tuhan tahu betul seperti apa yang hambanya idamkan. 

Menjadi idaman adalah keinginan hampir setiap perempuan. Katanya, menjadi perempuan yang diidam-idamkan itu bahagia. Katanya juga, dia tidak perlu repot-repot mencari jemputan karena pasti banyak yang menawarkan jemputan. Tapi entahlah, saya juga belum tau rasanya seperti apa. Dan saya tidak pernah mau kepo, apakah dulu saya menjadi idaman para lelaki? Ataukah sekarang saya menjadi idaman para pembaca tulisan saya? Yang saya pahami adalah ya setidaknya saya pernah menjadi idaman suami saya sebelum dia akhirnya memutuskan untuk membersamai perempuan idamannya. Kalau yang ini geer dikit boleh dong, udah halal jadi tidak masalah :p

Mengidam (v.)

Sebuah kata kerja yang ternyata saya alami di tahun 2016. Bulan november 2016, untuk pertama kalinya saya tetiba memiliki hasrat berlebih untuk makan eskrim di salah satu kedai dekat Toko Buku. Sekarang saya jadi paham betul mengapa hasrat tersebut hadir. Kini saya sedang mengandung si kecil, sebuah harapan bersama antara saya dan suami saya. Dari yang mual-mual, atau bahkan suami saya yang ikut mual-mual, hingga mengidam ragam bentuk. Saya pernah mengidam ayam goreng tepung disaat malam hari dan itu hujan. Sedangkan suami saya rela membelikannya hanya agar saya mau makan. Karena jujur ketika posisi ngidam, saya benar-benar tidak mau makan ya itu, ngidam saya terpenuhi. “Benar-benar merepotkan ya orang hamil,” batin saya kala itu dan sekarang. Lalu setelah pemikiran tersebut, Ibu saya juga menyampaikan bahwa mengidam itu masih bisa ditahan. Bahkan kata Ibu, ketika mengandung saya dan adik-adik, Ibu benar-benar mampu menahan ragam ngidam yang datang bertubi. “Alhasil, anak-anak Ibu tidak ada yang manja,”begitu pesannya. Akhirnya saya juga berpikir untuk bisa bersikap gigih seperti ibu, meski sebenarnya tidak ada yang benar-benar paham mengapa ngidam itu bisa terjadi dan tidak ada yang mewajibkan terwujudnya ngidam tersebut. Jadi, apa salahnya untuk mencoba? Dan yang saya lakukan adalah sebuah program ngidam mandiri. Ketika hasrat datang melanda, maka jika merepotkan maka lebih baik saya teguhkan diri sebisa mungkin, sedangkan jika dirasa masih mampu, maka saya akan lakukan sendiri dalam artian tidak akan merepotkan orang. Ketika itu saya pernah ngidam makan rawon, padahal saya belum pernah sama sekali membuat rawon, dan saya pun akhirnya berekperimen dengan resep makanan tersebut. Pernah juga saya ngidam makan timlo resto assalaam. Masakan favorit sebagian santri setiap Ahad siang, dan itu terbawa dalam mimpi. Besok paginya, saya bereksperimen lagi dengan resep makanan tersebut. Rasa? Ya kadang berhasil kadang juga di-berhasil-in, yang penting sudah terwujud dan itu ngidam mandiri. Tepat dua hari yang lalu, tetiba saya ingin makan telur dadar masakan suami. Bersyukurnya suami asik dan membuatkannya. Ketika telur dadar sudah jadi, saya justru hanya mau makan jika disuapin suami dan dengan tangan bukan dengan sendok. Komplit sudah saya buat ulah untuk suami saya. Ini masih 5 bulan, 4 bulan lagi entah cerita ngidam apa lagi yang akan tertulis. 

Kamus cerita idam (n;v) dari saya. 

Sekian.

Lembang, 16 Maret 2017

17.47 wib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!