Sastra dan seisinya

Layang-Layang

katanya “ini bukan yang terbaik buat kamu, zif”. aku menghela napas. bagaimana pun juga aku ingin sekali tetap menjadi seorang anak kecil. memiliki idealis yang tinggi. semangat tinggi. dan semuanya serba tinggi. “kalau aku ingin itu ya itu, bukan ini”.
menjadi anak kecil memang enak. berlaku sesukanya. tak perlu repot-repot memikirkan tanggung jawab. apalagi ketika berbicara masa depan. “kamu ingin jadi apa kalau sudah besar nanti dek?” dengan gampang kamu menjawab,”presiden!”
wah aku masih ingat betul rasa-rasa itu. semuanya aku bilang bahwa aku pasti bisa. aku bilang aku mau. aku bilang yah semuanya pasti bisa kuraih.
sama seperti layang-layang yang kuliat siang tadi. menari-nari dengan indahnya. bebas. seakan-akan tak ada dosa. aku bisa merasakan betapa bahagianya ia. walaupun zaman sekarang sudah berkurang peminatnya, tapi tak ada yg lebih indah dari tarian layang-layang. ke kanan-ke kiri, ah lenggak-lenggoknya begitu menawan. namun seandainya tak ada senar yang mengikatnya, apa ia layak disebut layang-layang? seakan tak berguna. tergelatak begitu saja. bagaimana jika terkena air? atau dibiarkan dibelakang pintu. kertasnya saja mudah robek. harga jualnya pun kalah dengan cireng. ah kalau berbicara layang-layang, apa kamu mengerti apa yang kumaksud?
anak kecil itu seperti layang-layang. apa saat ini kamu masih seperti layang-layang? jika tidak, apa kamu ingin kembali menjadi layang-layang?
ya tanyakan saja. pada mereka, dia, atau kamu sendiri.
Pasteur, 01 Juni 2014
bersama tarian layang-layang

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!