Sastra dan seisinya

Diam

Saat diam menjadi satu-satunya plihan yang harus kuambil,”…………………………………………………..”
seminggu ini berlalu lalang semuanya. entah tanpa alasan yang jelas dan pasti. kadang aku sendiri tak tega mengatakannya kepada seluruh anggota badan. mereka yang telah diamanahi untuk menjaga ragaku. ah, sepertinya benar. akunya saja yang tak tahu malu. aku menganggap diriku kuat dan terus saja bekerja layaknya roda, mengabaikan rintihan anggota tubuh,”tuan kita sudah lelah. sadarkah?” dan kuambil sebuah pilhan, diam.
maaf untuk niat jahatku dalam ragaku.
hari itu. saat dimana semuanya memuncak. aku terpojokkan. skenario yang dibuat oleh-Nya berhasil membuatku hampir jatuh menerima segala keragaman yang ada. iya di hari itu. menumpuk dan bertubi-tubi. dan kuambil sebuah pilhan, diam.
maaf untuk niat jahatku dalam ragaku.
semakin lama aku memilih untuk diam. semain lama pula aku harus membiarkan diriku seakan berada di sudut ambang batas. menyalahkan semua orang. berlaku egois. bertindak tanpa makna.
apa kamu mengerti?
maaf untuk niat jahatku dalam ragaku.
sudahlah.semoga ini menjadi yang terakhir.
Jatinangor, 18 Oktober 2014
07.14 (UT+7)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!