Cerita di Sekitar Kita,  Sastra dan seisinya

Gemuruh Rindu

titik-titik rindu mulai bergemuruh di langit-langit. mata tak lagi mampu dipejamkan. begitu juga layaknya nafas tak lagi mampu berhembus seperti biasanya. kali ini ia akan terhenti untuk sekejap.

jadi ini yang dinamakan taman surga. ada getaran yang benar-benar tak bisa kujelaskan dengan baik. seketika terdiam dan menatap ke arahnya: tatapan tajam.

“Assalaamu’alaika ya Nabiiy”

kami datang wahai nabiku. kami disini menemuimu. Duhai Nabiku, kini umatmu beramai-ramai mengunjungimu. melihat senyummu yang begitu menyejukkan. dirimu pasti bahagia bukan disana? dirimu dikelilingi aroma surgawi sudah pasti indah bukan?

Wahai Nabiku, inilah umatmu yang kau sebut-sebut di akhir hayatmu. umatmu yang masih saja kau tanyakan keselamatannya saat kau hampir pergi. kau, mengapa begitu memikirkan kami?

dan kini kami berkaca. tak ada yg tak memecahkan bendungan tangis di tempat ini. melihatmu, kami memberi sapa hangat untukmu. ketika hati merintih bersama lisan-lisan yang berucap kami mengunjungimu: Wahai Nabi yang kusayang dan kucinta, terimakasih karena kau sudah memberikan cahaya dunia yang gelap ini. aku tak akan pernah melupakanmu, seperti kau tak pernah melupakan umatmu.

“Ummati..Ummatii..Ummatii..”


Allohumma sholli ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad ……..

Nabawiy, 27 Desember 2014

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!