Cerita Ibu Anak

Jika Kamu Marah..

“Kamu ini, dikasih tau ibu kok ga nurut!”

Di rumah. Dengan segenap kedongkolan dihati, kamu berusaha menasihati anakmu. Namun tampaknya sia-sia. Bukan karna tidak didengar, tapi karena dia hanyalah si kecil. Seorang anak yang hanya ingin bermain dan berlarian kesana kemari hanya untuk menghabiskan tenaga yang ia punya. Sedangkan kamu sudah tidak kuat lagi melihatnya. Badanmu lelah, matamu pun mengantuk usai begadang semalaman karena si kecil merengek, kerjaanmu belum kelar, dan tentunya rumah yang lagi-lagi berantakan.

Bagaimana jika pada akhirnya kamu marah?

Ketika kamu marah, maka syaitan semakin dekat disekitarmu. Bersiap untuk menertawakan emosimu yang membuncah. Sedangkah malaikat yang mewanti-wantimu di dalam hatimu, perlahan bersiap membuka catatan amalanmu. Begitu juga malaikat di langit sana, bersiap menanti kelanjutan terhadap apa yang akan kamu lakukan. Lalu kamu tanpa basa-basi lagi kemudian menghujat,”mau Ibu pukul? Ibu ini lagi sakit! Anak nakal ya, bisanya cuman nyusahin orang tua!” Sekian. Dan wuuuusshhhhh melesat sudah perkataanmu sebagai sang Ibu. Mau bagaimana lagi, syaitan akhirnya puas menertawakanmu, malaikat kirimu mencatatnya, sedangkan kata-katamu tadi membumbung tinggi sampai ke langit sana kemudian malaikat dengan sedih mau tidak mau harus mengAmiininya. Mengapa doa jelekmu sampai ke langit? Ya, karena Alloh sudah menjajikan bahwa perkataan yang keluar dari lisan seorang ibu, yang kini berjihad mengurus anak-anaknya, perkataannya akan menjadi doa yang didengar dan dikabulkan.

Aduhai kasihan sekali si kecil. Dari usianya yang tidak tau menahu tentang dosa, kini ia sudah didoakan menjadi anak nakal. Ironinya, ibunya lah yang mendoakan. Bagaimana jika sudah dewasa nanti, masihkah menjadi anak nakal?


“Ayah memangnya tidak bisa cari kerjaan lain yang lebih menghasilkan? Uang kita tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan. Mau sampai kapan aku dan anak-anak tinggal di rumah seperti ini terus?”

Lagi-lagi kamu mengeluh. Melihat suami pulang kerja dan masuk rumah dengan membawa upah hari ini. Ingin bersyukur, tapi tidak ada peningkatan hasil upah. Segitu-gitu aja, batinmu. Akhirnya kamu mengeluh pada suamimu. Tidak hanya itu, bahkan sesekali kamu jengkel dan tanpa sadar menyakiti perasaan suamimu. Kamu marah. Namun suamimu tetap bersabar dab setia meski sikapmu perlahan berubah. Karena yang kamu lihat hanya kebutuhan duniawimu.

Bagaimana jika kamu marah?

Keluh kesahmu yang kamu tumpuk itu, lama kelamaan akan menjadi hiasan dinding-dinding rumahmu. Yang kamu ingat hanyalah kesal dan perasaan tidak puas. Maka jangan heran jika akhirnya didalam rumahmu menjadi terasa panas bahkan sesuai prasangka keluh kesahmu. Dari yang merasa sedikit kurang hingga benar-benar kurang. Sedangkan kerja suamimu pun semakin diuji pekerjaannya. Maka ingatlah, kelancaran pekerjaan suamimu juga dipengaruhi oleh ridho dan doa istrinya. Iya ridho-mu.

Bukankah baiti jannati , bersumber dari penghuninya yang sehat? Sehat akal dan juga ruhnya. Bahagia suaminya, istrinya, dan juga anak-anaknya. Jangan enggan untuk menulis doa indah serta kata-kata mutiara didalam surgamu itu. Betul jika manusia terlahir dengan sifat khilafnya. Oleh karena itu, kita butuh untuk diingatkan.

Lembang 1 februari 2019

11.23 wib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!