Cerita Ibu Anak

Menyusui kakak adik beda usia secara bersamaan, WHY NOT?

Tandem nursing. Begitu sebutannya. Kala itu, aku melahirkan anak pertama di usia 22 tahun. Seorang bayi perempuan. Ketika masa nugas usai, aku sendiri ga nyangka kalau ternyata, rahim sudah kembali subur dan siap dibuahi. Padahal full Direct ASI menyusui bayiku. Dan ketika bayi pertamaku berusia 3 bulan, aku mulai curiga dengan kondisi tubuhku yang kurang nyaman, akhirnya aku inisiatif untuk test pack. Ya betul, Lagi-lagi positif hamil.

Saat melihat fakta tersebut, aku antara senang tapi juga kalut. Merawat bayi yang baru hadir saja baru 3 bulan lamanya, tapi Alloh kasih amanah anak kedua secepat itu. Sedangkan suami juga kalau itu senyum-semyum aja, mungkin karena berhasil menghamili istrinya lagi😌

Singkat cerita, saya langsung belajar tentang apa yang terjadi dengan ASI saya kelak jika saya sedang mengandung janin. Hal ini pun tidak saya kabarkan dulu ke keluarga, karena yang saya pahami adalah kebiasaannya ketika sang ibu hamil namun sedang menyusui, keputusannya adalah menyapih anak yang disusui. Sedangkan aku, tidak sedetik pun terpikir untuk menyapih bayi pertamaku sedini itu.

Belajar kemudian membaca berbagai referensi, jujur saat itu juga saya takut buat konsultasi dokter karena khawatir diminta untuk sapih bayi pertamaku. Aku dan suamiku, kami berdua sepakat untuk mempelajari dan melaksanakan tanggung jawab ini bersama.

Bayi Rewel

Efek samping ibu hamil yang menyusui adalah rasa ASI yang berubah. Perubahan hormonal pada tubuh ibu mempengaruhi rasa ASI yang diproduksi. Untuk awal-awal kehamilan, jumlah ASI masih tetap, namun mulai terasa perbedaannya saat bayi mulai kurang nyaman saat menyusui.

Bahkan, dari saat itu pun aku menyadari sesuatu. Bayi sejak kecil sudah mampu membuat keputusan. Meski rasa ASI berubah, ada bayi yang tidak suka dan akhirnya berhenti menyusui, namun untuk bayiku sendiri, meski dia kurang nyaman, pada akhirnya dia memutuskan untuk adaptasi dengan rasa baru ASI ibunya. Maasyaa Alloh…

Nah, untuk tipe bayi yang langsung tidak mau lagi menyusui, segeralah mencari pengganti ASI. Bisa susu sapi formula atau susu soya.

Asupan Nutrisi Tambahan sesuaikan Badget

Meskipun bayi pertamaku masih mau menyusui, aku juga memutuskan untuk mencari alternatif tambahan asupan nutrisi yang diminum nya. Waktu itu langsung terfikir mencoba susu formula sapi yang sesuai dengan Badget rumah tangga. Ke swalayan terdapat dan dapatlah susu bubuk usia 0-6 bulan yang paling terjangkau harganya. Pertama kali diminum kan ke bayiku, rasanya seneng banget, satu botol 45 ml langsung abis dan keliatan sekali kenyangnya. Tapi, ceritanya tidak se melegakan itu. Setelah disuapin dot kemudian tertidur, beberapa jam setelahnya tetiba muncul bentol-bentol besar. Aku kaget, mungkin itu semacam biduran atau mungkin ada ulet bulu. Sembari dioles-oles, seiring berjalannya waktu lama lama hilang. Sebenarnya saat itu masih curiga juga, kenapa mendadak bentol-bentol. Esok siang harinya, bentol-bentol hilang tinggal bekas kemerahannya saja. Aku pun kembali memberikan susu formula pada bayiku, dan beberapa jam kemudian, bentol-bentol pun muncul. Akhirnya tanpa berpikir panjang, aku dan suamiku mencari referensi tentang alergi susu sapi. Kebetulan, ada tetangga yang dulu anaknya juga alergi sapi, efek sampingnya pun sama yaitu muncul bentol-bentol.

Ternyata, alergi susu sapi pun ada spesifiknya, dan itu ga aku tindak lanjuti, karena harus cek lab dsb. Ikhtiar selanjutnya saya mencoba susu sapi yang agak mahal yang dikenal protein terhidrolisisnya tidak terlalu besar sehingga yang alergen pun cukup aman mengkonsumsi. Tapi, hasilnya pun sama bentolnya meski reaksinya lebih lambat dan tidak terlalu banyak. Sudah cukup mecoba susu sapinya, akhirnya beralih ke susu soya formula. Aku pun baru tau kalau baunya, se nggak enak itu 😂 dan yasudah betul, bayiku sama sekali ga mau minum susu soya nya. Mentok ga ada ide sedangkan usia kehamilan ku pun terus berjalan, aku pun memberikan air madu murni (non hutan) yang kemudian dilarutkan dalam air agak hangat dimasukkan pada botol dot. Alhamdulillah, kulihat kebutuhan cairan bayiku cukup tertutupi. Meskipun seharusnya air madu kurang dianjurkan untuk bayi. Saat itu pun mencari referensi tentang kenapa ga dianjurkan. Khawatir masih ada sarang lebah yang nyangkut dalam seduhan air madu, begitu kata sebagian banyak referensi. 

Masuk usia 5 bulan bayiku, karena sudah putus asa karena tidak ada susu yang cocok dengan bayiku, dan karena madu yang terlalu manis membuatku terpikir untuk segera menghentikannya (padahal belum tau harus ganti apa😭). Suatu hari, tetiba teringat susu kedelai yang enak rasanya, dulu ketika SD, aku pernah konsumsi itu. Susu Mile**a. Tentu dikenal untuk penggemar soya. Baru teringat dan langsung terpikir untuk memberikannya pada bayiku. Alhamdulillah kabar baik, sesuai takarannya, dan cocok. Dan sepanjang aku masih menyusui asiku, ada tambahan asupan nutrisi cairan (sebelum MPASI).

Dokter Support

Dulu saat kehamilan pertama, aku sempat mencoba berbagai dokter di daerah rumahku. Awalnya kekeuh dokter perempuan, tapi speachless karena ga sesuai ekspektasi. Mencari dokter yang rekomen ternyata antriannya sepanjang itu. Kehamilan kedua pun mencoba ke dokter Spog laki-laki di RSUD Lembang. Rejekinya hari itu diperiksa sama dokter yang support laktasi, artinya meski aku sedang mengandung, rahim di USG pun dinyatakan kuat (tidak mudah kontraksi), dan selama bayi tidak menyulitkan saat menyusui adi ibu (tidak ada reaksi tubuh/sakit perut atau mencret/tidak rewel) dinyatakan maan dan lanjut saja menyusui. Disaat itu pun saya mendapat kabar setelah USG bahwa yang saya kandung adalah bayi laki-laki. Dobel bahagia nya, ternyata mendapat dokter yang support sama keputusan kita itu sangat sangat penting.

Trimester kedua dan ketiga

Kehamilan usia trimester kedua, nampak jelas dari susu asinya yang mulai sedikit jumlahnya. Disaat ini meskipun bayi sudah MPASI dan ada tambahan susu dot, mengenyot puting adalah zona nyaman para bayi. Disaat trimester kedua sampai trimester ketiga pun mulai terasa tidak nyaman buatku. Dari yang puting mulai sensitif, plus perut yang mulai terasa sakit (kontraksi mules) setiap dikenyot bayi. Pilu memang, tapi aku harus bertanggungjawab sama janji di awal ku. Meskipun sering drama tangisannya antara aku dan bayiku, sedangkan perut membesar pula, kembali ku kuatkan untuk memenuhi hak bayi pertamaku.

Kehadiran bayi kedua

Masa sulit resahku dan galau ku, berujungbtak terasa 9 bulan lamanya aku mengandung bayi kedua. Adiknya pun lahir, kabar bahagianya, sang kakak yang katanya mungkin harusnya ga lagi mau minum ASI ku karna rasanya betul berbeda. Ternyata masih mau dan justru semakin senang. Awalnya kupikir itu mitos, ternyata istilah “mimilikan”  Itu benar adanya. Rasa ASI nya beda. Efeknya pun terlihat saat sang kakak mulai mencret slama 2 hari. Mencret nya itu seperti air susu. Awalnya kukira salah makan dsb, ternyata seharian, keliatan mencret nya stiap habis menyusui. Spekulasiku, ASI yang baru dari hasil kelahiran adiknya memiliki kandungan yang berbeda dan itu sudah tidak lagi cocok dengan perut sang kakak. Dan mencret nya ga lama sih, ga pakai dokter juga, waktu itu pernah nemu referensi literatur Inggris, jadi karna perubahan komposisi ASI membuat kaget pencernaan kakak, justru obatnya adalah terus disusui, agar semakin adaptasi pencernaannya. Ya betul, ga sampai 3 hari, kakak sudah tidak lagi mencret.

Waktu itu usia kakak genap 1 tahun disaat lahirnya adiknya. Bahkan 1 tahun kurang 5 hari. Sang kakak pun mulai merasa cemburu dengan adanya adik. Sudah banyak yang menyarankan untuk menyapih nya, sedangkan aku juga belum sanggup menghadapi drama persapihan. Aku memutuskan untuk masih teguh dengan pendirianku. Let’s do it! Bantu Umma ya nak. 

IMG_20200905_212616

Nyusuin barengan dua bayi kakak dan adik, akhirnya kualami dan kurasakan sampai kakak berusia dua tahun. Masak sambil gendong depan belakang, ini edisi bayi kembar beda jauh berat badannya hehe

IMG_20200905_212658

Susah sedih, pilu bahagia, itu akhirnya kudapati manis buahnya. Melihat anak-anak tumbuh dengan kesan se-usia membuat mereka jadi bisa bermain bersama. Ada kawan yang saling melengkapi antara mereka di rumah ini. Seiring usia, alergi susu sapi sang kakak pun berkurang, dan kini sudah tidak lagi alergi.

IMG-20200721-WA0073

 

Darinya aku belajar banyak tentang pentingnya komunikasi dan mengungkapkan segala rasa kepada suami.
Darinya aku belajar tentang sabar itu tidak ada batasnya, jangan mengaku sudah tau apa arti sabar, karena selalu ada soal yang membuat kita mengenal “sabar” dengan perspektif yang berbeda. Darinya aku belajar sesuatu yang paling indah, meski itu pahit, ada rasa manis yang akhirnya akan kita nikmati.

Terima kasih dua malaikat kecilku….

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!