Sastra dan seisinya

Hadapilah

uraian kata menjadi makna. ungkapan makna menjadi bait-bait indah yang mewarnai isi hati.
ada beberapa hal yang tanpa disadari, kita begitu mudah mengucap kata ‘terlanjur’. terlanjur baik, terlanjur jahat, terlanjur sedih, terlanjur bahagia, atau justru terlanjur cinta.

banyak dari kita yang pada akhirnya menyalahkan istilah terlanjur. seakan-akan hal itu adalah hasil dari keputusan yang terburu-buru. apa betul begitu? kita terburu-buru untuk memilih menjadi baik? atau terburu-buru menjadi jahat?

mungkin karena kita yang kurang sensitif, bahwa sebenarnya keputusan terburu-buru yang kamu bilang itu adalah sebuah komitmen yang kamu pilih untuk dipegang dan dijaga. bukan berarti menjadikan objek untuk disalahkan. ia ada karena kita yang memilih, bukankah begitu?


“ibu.. lihat, disekeliling kita banyak sekali malaikat yang mondar-mandir sana dan sini, sibuk mengamati dan mencatat apa yang katanya terlanjur kita lakukan.” begitu katamu.

“tidak hanya itu nak, masih ada yang terlewatkan. kadang kita suka melupakan yang satu ini, bahwa malaikat tidak pernah lelah dan lupa untuk salalu mengulurkan tangannya kepada kita. dia begitu karena mendapat semacam surat rujukan dari Tuhan. Iya, kita terkadang melupakan hal itu. terlanjur panik tanpa meminta bantuan ‘sekeliling’ kita. kamu tahu, bahwa ada malaikat sebagai pengamat. ada doa sebagai perantara.” kata ibu sambil membelai rambutku.

dan aku pun tersenyum, usapan lembut tangannya perlahan membuatku terlelap. dan aku pun tertidur, tenang.


jadi untuk apa kita menyalahkan? masih ada yang selalu bersedia mengulurkan tangannya untuk kita. tidak usah ragu, tidak usah khawatir. sekarang lihat kedepan dan hadapi!

Jatinangor, 12 April 2015
00.28 WIB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!