Cerita di Sekitar Kita,  Cerita Makhluk Hidup

Permafrost dan Climate Change

Permafrost merupakan singkatan dari “permanent frost” yaitu istilah yang merujuk pada lapisan tanah yang selalu berada di bawah titik beku selama sekurang-kurangnya 2 tahun. Istilah ini mulai diperkenalkan sejak tahun 1940-an. Meskipun kadang dianggap “marginal” atau “kurang bernilai guna”, kasus “ancient giant virus” dari permafrost menunjukan dampak yang dapat terjadi jika permafrost mencair.

polar, arctic, cold-3648439.jpg

Perubahan iklim disebut karna adanya perubahan komposisi atmosfer global dalam periode waktu yang lama. Adapun komposisi atmosfer tersebut disebut sebagai gas rumah kaca. Gas rumah kaca di atmosfer berguna untuk menjaga suhu bumi tetap stabil. Namun, konsentrasi Gas Rumah kaca yang semakin meningkat membuat lapisan atmosfer semakin tebal. Penebalan lapisan atmosfer tersebut menyebabkan jumlah panas bumi yang terperangkap di atmosfer bumi semakin banyak, sehingga mengakibatkan peningkatan suhu bumi, yang disebut dengan pemanasan global. Dari adanya peningkatan suhu bumi yang akhirnya mempengaruhi variabilitas iklim, maka tentu akan memberikan dampak pada keseimbangan ekosistem. Ada beberapa dampak akibat adanya pemanasan global: 

Mencairnya lapisan es kutub. Selain menimbulkan efek balik dari permafrost yang melepaskan karbon dan metana ke alam, mencairnya lapisan es juga mengakibatkan naiknya permukaan air laut secara global. Bukan tidak mungkin jika kehidupan masyarakat pesisir pun terancam.

Adanya cuaca ekstrim sehingga berdampak pada prediksi musim. Sebagai contoh mungkin petani akan mengalami kesulitan dalam menentukan waktu tanam yang tentu keberhasilan panennya sangat bergantung pada waktu tanam yang tepat. Sehingga bila gagal panen tentu akan berakibat pada ketersediaan pangan, inflasi, dsb. Selain itu, cuaca ekstrim juga dapat menganggu kestabilan ekosistem terutama pada flora dan fauna yang mungkin sulit tolerasi pada perubahan cuaca yang ekstrim.

Adanya perubahan tekanan udara dan suhu dapat mempengaruhi arus laut yang nantinya akan berpengaruh pada migrasi ikan sehingga berdampak pula pada hasil tangkap ikan. Selain itu seperti kematian pada terumbu karang akibat suhu laut akan memberikan dampak berkesinambungan pada biota laut seperti hilangnya spesies yang terbiasa bergantung dengan terumbu karang.

Perubahan habitat, juga cuaca memungkinkan adanya resistensi organisme pada suatu lingkungan yang mungkin nantinya berdampak pada penyebaran maupun transmisi wabah penyakit.

 

 

icebear, polar bears, predator-709682.jpg

Beberapa mitigasi dapat dilakukan untuk memeinimalisir terjadinya climate change. Diantaranya yaitu:

Menanam tanaman dan pelestariannya. Tanaman setiap harinya membutuhkan karbondioksida untuk melakukan fotosistesis. Seperti misalnya jenis bambu ang dikenal dengan kebutuhan karbondioksidanya yang besar akan sangat membantu dalam penstabilan gas rumah kaca. Begitu juga dengan pohon-pohon besar.

Gunakan energi alternatif ramah lingkungan sebagai bahan bakar sehingga tidak menambah emisi gas rumah kaca dari limbah polusi bahan bakar fosil. Misal menggunakan biofuel dari biomassa tanaman, limbah organik, maupun mikroba. Juga alternatif tenaga surya.

Batasi penggunaan plastik maupun konsumsi produk berkemasan plastik. Dalam hal ini, selain proses produksi plastik yang meninggal jejak emisi carbon yang tinggi, saat terkena radiasi matahari plastik mengalami degradasi dan melepaskan gas rumah kaca berupa metana dan etilen ke udara.

Pilah sampah organik dan anorganik. Limbah dapur/sampah organik diolah menjadi pupuk kompos sehingga tidak menambah emisi karbon yang dihasilkan dari sampah organik yang tercampur dengan anorganik.

Sebisa mungkin gunakan kendaraan yang tidak berasap. Pakailah sepeda atau jalan kaki.

Upaya edukasi pada masyarakat terhadap dampak lingkungan, serta solusi alternatif yang bisa kita lakukan dari diri sendiri dan dari rumah.

Kebijakan pemerintah yang sinergis dengan intansi pemerintah maupun swasta.

Penerapan pajak untuk perusahaan/instansi/ maupun pabrik yang melibatkan jasa ekosistem.

Referensi:

http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/index.php/info-iklim/perubahan-iklim 

Harjanto, Nur Tri .(2008).DAMPAK LINGKUNGAN PUSAT LISTRIK TENAGA FOSIL DAN PROSPEK PLTN SEBAGAI SUMBER ENERGI LISTRIK NASIONAL .  Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir, BATAN. Vol 1 Tahun I. 39-50  

Astra, I. M. (2010). ENERGI DAN DAMPAKNYA TERHADAP LINGKUNGAN.

Jurnal Meteorologi Dan Geofisika, 11(2). https://doi.org/10.31172/jmg.v11i2.72 

Sudarman. (2010).MEMINIMALKAN DAYA DUKUNG SAMPAH TERHADAP PEMANASAN GLOBAL. PROFESIONAL,8, (1),ISSN 1693-3745 

Royer, S. J., Ferrón, S., Wilson, S. T., & Karl, D. M. (2018). Production of methane and ethylene from plastic in the environment. PLOS ONE, 13(8), e0200574. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0200574 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!