• Sastra dan seisinya

    (si)apa Tuan Merah

    Nyanyian angin bersama alunan merdu rumput, membuat senja ini smakin menjadi-jadi. Burung yang biasanya bersuka cita menyambut senja kini entah kemana. Ada sebilah kaca dan serpihan tanda tanya yang berserakan. Mewarnai atau mengotori (?) Senja tidak selamanya akan indah, begitu kata merpati. Apa yang menurut kita indah belum tentu sama indahnya bagimu. Karna bagaimanapun juga, keindahan akan hadir saat hati, mata, dan pikiran bersama-sama memiliki rasa: iya, itu indah. Begitu juga tentang hal-hal yang biasa kita rasakan: baik, bagus, elok, cantik, tampan.  “Mengapa hanya yang baik-baik saja? Bagaimana dengan sakit? Jelek? Jahat?” Tanya adik dengan penasarannya. “Kau harus tahu bahwa disitu, disitu, dan disitu, ada tuan merah yang selalu menyertai.…

  • Sastra dan seisinya

    Perihal Sebuah Kekuatan dan Ketegaran

    ada yang namanya pagi setelah malam. ada pula yang namanya¬†lapar setelah kenyang. begitu seterusnya, membentuk sebuah hubungan yang terkait. jika setelah ‘ini’ ada maka ‘itu’ akan mengikuti. katanya aku adalah orang yang tidak pernah diam di sekolah. selalu saja membuat suasana ruangan kelas menjadi hidup. entak baik ataupun tidak yang jelas sekalinya aku terdiam maka suasana kelas seakan tidak hidup seperti biasanya. bukankah pernah kamu melihat aku termenung? mengendap-endap dalam kebisuan. sedangkan ketika kamu datang dan menyapa maka aku akan menyiapkan segala cara membentuk¬†raut wajah. tersenyum atau membalasnya dengan sangat dan sangat bahagia. sama halnya saat kamu mengejutkanku, maka aku sudah siap. siap dengan raut wajahku yang tersentak kaget. kalau…

  • Sastra dan seisinya

    Lupa

    belum lama kita berpisah semenjak pertemuan pertama kita tadi, aku sudah melupakan apa saja yang telah kita obrolkan. mungkin pesonamu membuatku lupa akan banyak hal. lupa bagaimana cara mesin di otak bergerak bahkan lupa bagaimana bibir ini bergerak mengucap namamu. jejak-jejak yang kita buat nampaknya sudah terhapus oleh rintik hujan sore ini. sekalipun aku mencarinya tapi tetap saja tak ada yang tertinggal. semakin lama hujan, semakin banyak kesempatan bagi angin dingin yang ikut menyelinap di celah ingatanku. berusaha menghapus segala hal yang berhubungan dengan ‘cara’. ah aku benci mengatakan ini. aku mudah sekali lupa. jika aku boleh memberikan pembelaan, aku tidaklah beda denganmu. kita sama-sama manusia bukan? makhluk paling pintar…

  • Sastra dan seisinya

    Tuan Merah

    aku duduk terdiam di sebuah ruangan. kupikir hanya aku disini. tapi ternyata ada sosok lain yang tidak aku ketahui. tuan merah di dimensi berbeda. barangkali aku terlalu bangga dengan perkataanku sendiri. atau aku terlalu membuat-buat-memaksakan agar ini tetap terjadi. sepertinya saat ini tuan merah sedang merayakan sebuah pesta. tertawa terbahak-bahak melihatku. aku akhirnya terjebak dalam lingkaran yang dia buat. hai tuan merah! apa boleh aku bertanya untuk memastikan sesuatu. jujur saja-wanita paling suka mengetahui sebuah kepastian. kamu terlalu jujur. menunjukkan kemenanganmu. ah sepertinya memang begitu. kamu, tuan merah benar-benar berpesta. silakan lakukan semaumu. aku memang bodoh. kuucapkan selamat untukmu! selamat atas keberhasilanmu. hai tuan merah! sekalipun aku memang jahat. ada…

error: Content is protected !!