Sastra dan seisinya

Perihal Sebuah Kekuatan dan Ketegaran

ada yang namanya pagi setelah malam. ada pula yang namanya lapar setelah kenyang. begitu seterusnya, membentuk sebuah hubungan yang terkait. jika setelah ‘ini’ ada maka ‘itu’ akan mengikuti.

katanya aku adalah orang yang tidak pernah diam di sekolah. selalu saja membuat suasana ruangan kelas menjadi hidup. entak baik ataupun tidak yang jelas sekalinya aku terdiam maka suasana kelas seakan tidak hidup seperti biasanya. bukankah pernah kamu melihat aku termenung? mengendap-endap dalam kebisuan. sedangkan ketika kamu datang dan menyapa maka aku akan menyiapkan segala cara membentuk raut wajah. tersenyum atau membalasnya dengan sangat dan sangat bahagia. sama halnya saat kamu mengejutkanku, maka aku sudah siap. siap dengan raut wajahku yang tersentak kaget.

kalau kamu bertanya siapa orang yang paling sering berbohong, aku akan menjawab: itu aku.

siapalagi kalau bukan aku? orang yang berpura-pura kuat, berpura-pura menunjukkan ketegaran, layaknya tidak terjadi apa-apa. semua sudah di setting dari awal bangun pagi. berdiri menghadap cermin, menyunggingkan bibir, dan tes suara: a a i u e o, tes tes, iya siap, mulai, ceria, yeaaay!!

mungkin disini bukan hanya aku yang sering berbohong. kamu yang membaca atau kamu-kamu yang ada diluar sana. ada yang namanya ujian sebagai pelajaran kehidupan. dalam sebuah hubungan keterkaitan, ada pula yang namanya kemudahan setelah kesulitan. tentang ujian yang datang, anggap saja sebagai tes kelayakan menjadi seorang mukmin. begitu katanya.

diakhir, kusampaikan maaf untuk setiap perilaku yang telah kubuat.
kepadamu, kepada kalian semua yang telah kubohongi.

Terimakasih.

Jatinangor, 15 Maret 2015
18.08 WIB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!