Cerita Sekolah

Ketika Mulutmu Menjadi Terkaman bagi Orang Lain

    
    Jumat pagi. Hari ini hari libur. Berbeda dengan sekolah lainnya, hari Mingguku digeser menjadi hari Jumat. Aku duduk di kelas 2 SMA. Aku tinggal di asrama berbasis boarding school. Sekolahku terletak di sebuah kota yang dulu pernah dipimpin oleh walikota blusukan, Solo. Sebagian orang mengatakan bahwa kehidupan asrama sangat membosankan. Hidupnya hanya diisi dengan sebuah rutinitas dan tak ada kebebasan. Belum lagi kamarnya yang sempit dan harus rela berbagi dengan orang lain. Kamar mandi yang harus rela mengantri lama agar bisa mandi. Aku tak akan menyalahkan hal itu bahkan aku sempat berfikir untuk keluar dari sana. Tapi faktanya berbeda. Selama hampir lima tahun hidupku selalu berwarna. Sedih maupun suka. Menyakitkan maupun menyenangkan. Aku bersyukur pernah hidup disana. Warna itu adalah teman-temanku. Kejadian gila merekalah yang membuatku bertahan hingga kini.
    Tokoh “aku” dalam cerita ini bukanlah sebagai pelaku utama. Nana, dia adalah teman sekamarku. Pelaku utama dalam cerita ini. Teman senasib sama-sama mengantri lama demi mendapatkan kamar mandi. Lagi-lagi aku bersyukur karena menjadi satu-satunya saksi hidup atas perkara ini.
    Nana dan aku. Kita berdua sedang berburu kamar mandi. Banyak pintu kamar mandi yang terbuka. Tapi bukan berarti kamar mandi itu dapat digunakan. Resiko di hari Jumat. Kehabisan air. Walaupun tak semua kamar mandi tapi kita harus mencari lebih giat lagi untuk mendapatkan kamar mandi yang masih dapat digunakan. Dari duapuluh empat kamar mandi, ada sepuluh kamar mandi dengan kondisi pintu tertutup. Tiga disisi kiri dan tujuh disisi kanan. Kita pun mengantri di salah satu kamar mandi. Aku berdiri di depan kamar mandi dua dari sisi kanan dan Nana berdiri paling pojok. Bersabar adalah kunci sukses. Slogan “SANTRI (Sabar Mengantri) memang sudah melekat di diriku. Apa boleh buat. Mengantrilah dan berdoalah semoga diberi kamar mandi secepatnya.
    Hampir 10 menit kita mengantri. Tak kunjung terbuka pintu depan kita. Kami lupa mengetuk pintu dan menanyakan orang di dalamnya. Akhirnya Nana memulai.
“masih lama nggak?” Tanya Nana sambil mengetuk pintu.
“nggak kok, sebentar lagi.” Jawab orang didalamnya.
    Aku terkejut. Begitu juga Nana. Kami pun terkekeh. Penasaran dengan orang didalamnya. Bagaimana tidak, suara itu membuat perutku terkocok. Aku tertawa. Suaranya begitu kecil dan genit. Seandainya aku lelaki, aku pasti terbawa nafsu. Suaranya begitu menggoda. Bagiku godaan itu bukan godaan layaknya laki-laki yang menggoda perempuan atau bahkan sebaliknya. Justru suaranya menggodaku untuk menjahilinya. Walaupun aku orang jahil tapi aku tak sebodoh itu. Hidup di asrama bukanlah hidup hanya dengan satu angkatan tetapi dengan enam angkatan yang berbeda. Bisa jadi orang didalam kamar mandi itu adalah seniorku. Kuurungkan niatku. Aku tetap kuat berdiri. SANTRI.
“cepetan ya.” Jawab Nana dengan balasan suara yang tak jauh genitnya. Ya itu pasti karena Nana tak sabar ingin menjahilinya.
    Aku tak tahu apa yang sedang direncanakan Nana. Gerak-geriknya mencurigakan. Aku ingin bertanya tapi rasa penasaranku menghentikannya. Aku menunggu ulahnya. Nana mengamati pintu didepannya dengan seksama. Kamar mandi itu memiliki ciri khas dengan lubangnya di pinggir dekat engsel pintu. Aku tak tahu apakah tukan pembuat pintunya yang mengantuk atau pimpinan sekolah yang tak ingin membuang uangnya untuk kamar mandi? Entahlah. Menurutku keselamatan pengguna kamar mandi lebih penting daripada asrama dan seisinya. Bagaimana bisa? Hal ini terbukti dari kejadian yang akan terjadi pada pengguna kamar mandi yang ada di hadapan Nana. Alasan kamar mandi itu dipilih Nana adalah airnya yang bening sebiru laut. Biasanya ketika mandi disitu, lubang tersebut harus disiasati dengan handuk yang digantung. Sehingga orang lain tak dapat mengintip.
    Hal yang dikhawatirkan terjadi. Awalnya kupikir Nana tidak akan senekat itu. Mungkin setan telah menghasutnya hingga ia memberanikan diri meletakkan matanya tepat di lubang pintu. Set! Dan terjadilah. Aku yakin Nana tak sadar melakukannya. Hal yang seharusnya masih bisa diselamatkan kini terlambat sudah. Nana mengintip orang mandi. Julukan itu pantas diperolehnya. Hal yang lebih mengerikan adalah ketika si pengguna kamar mandi tersebut sadar bahwa ia sedang diintip. Alhasil apa yang kutulis di kalimat sebelumnya benar adanya. Mata mereka saling bertemu. Sama-sama melihat. Nana tersentak. Ia kaget dan tak berkata. Badannya menjauhi pintu itu. Mundur dan mundur. Bahkan lari dan bersembunyi di kamar mandi lain. Ya Nana ketahuan.
“heh siapa itu?! Awas ntar bintitan aja baru tahu rasa!!” teriak sang korban.
    Dia keluar. Sang pengguna kamar mandi tersebut mencari-cari sesosok yang tadi telah mengintipnya. Di TKP hanya ada aku. Semoga saja dia tak menuduhku. Sempat matanya melihatku. Tapi aku yakin dia tahu bukan aku pelakunya. Nana tetap bersembunyi. Aku sadar bahwa orang tersebut adalah kakak kelasku yang selama ini sering diomongin sama Nana. Kakak kelas yang memiliki perilaku berbeda dari teman-teman lainnya. Bukan aneh ataupun idiot. Hanya saja berbeda.
“Na kamu denger tadi gak? Kamu disumpahin loh ama mbaknya.” Kataku sambil menakutinya.
“yah aku kan tadi nggak ngintip. Dianya aja yang kepedean. Ngapain juga aku ngintip cewek mandi. Aku kan masih waras. Ah ini pintu nyari masalah. Bikin fitnah nih!” timpal Nana. Berharap semoga sumpah seraph itu tak benar-benar menimpanya. Walaupun begitu kami tertawa sekencang-kencangnya. Mengingat kejadian tadi seakan-akan Nana bukanlah seorang wanita pada umumnya. Apalagi orang yang diintipnya adalah kakak kelas. Apa jadinya kalau orang itu bertemu dengan Nana? Aku tak dapat membayangkannya.
    Belum sempat membayangkannya tiba-tiba tawa kami terhenti. Seseorang yang belum saja pergi dari penglihatanku kini muncul dari kejauhan mengahadapkan wajahnya kea rah kami.
“Oh jadi kamu ya!” pergoknya. Orang itu orang yang diintip Nana. Aku mati kaku. Bagaimana dengan Nana? Kuyakin Nana lebih dari mati kaku bang tehkan harga dirinya lari tak memberikan jejak seakan-akan malu memiliki jiwa sang pengintip orang mandi. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Meminta maaf kah? Tidak. Bukan aku pelakunya. Nana masih diam. Ia benar-benar tak berpikir untuk meminta maap. Anehnya kakak kelas tersebut pergi begitu saja setelah memergoki Nana. Sudah kukatakan sebelumnya. Orang tersebut memang berbeda dari yang lainnya.
    Kami masuk kedalam kamar mandi. Diam dalam pikiran masing-masing. Harga diri Nana yang jatuh sesaat dan aku sebagai saksi hidup sumpah serapah itu. Semoga sumpah itu tak terjadi.
    Hari-hari di sekolah dilewati dengan rutinitas yang yang bergelombang. Tidak dengan seminggu ini. Setelah tragedi tersebut wajah sang kakak kelas masih saja terngiang di benak Nana. Bahkan tak hanya itu bayangannya saja sudah membuat Nana merasa bersalah dan takut. Seperti lirik lagu, “aku mau makan aku ingat kamu. Aku mau tidur aku ingat kamu” dan lebih parahnya lagi sang kakak kelas benar-benar menghantui Nana. Di tempat makan, dapur, taman, kantin, dan masjid selalu saja bertemu dengannya. Sempat terpikir untuk menggunakan topeng agar tak dikenalnya. Teman-teman sekamar kami ceritakan tragedi pengintipan tersebut. Kasihan Nana.
    Tepat satu minggu setelah tragedi tersebut. Di pagi yang cerah ketika aku dan teman-temanku bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, tiba-tiba Nana berteriak.
“Arrggghhhhhhhhhh!!! Mataku kenapa ni?” teriakan Nana benar-benar membuat bising kamar.
“Ada apa sih Na? rebut banget!” Tanya teman-teman heran. Karena penasaran, mereka langsung menegrubungi Nana. Kaca yang dipegangnya langsung ditaruh di lemarinya. Nana galau dan dilanda kebingungan. Mungkinkah sumpah itu? Inikah kutukan darinya? Orang yang tak sengaja kuintip?
“hayo loh kualat kamu Na!” ejek teman-teman. Kali ini Nana benar-benar malu. Apalagi dengan mata bintitannya. Malunya bercampur aduk. Apa jadinya jika ia bertemu dengan orang yang menyumpahinya sedangkan matanya dalam kondisi bintitan. Pasti orang tersebut puas. Haduh Nana harus menanggung sumpah itu. Aku turut berbela sungkawa Na atas apa yang telah terjadi. Padahal aku yakin saat itu kamu tak berniat untuk mengintip. Huh ya sudahlah. Semuanya telah terjadi. menikmati sumpah serapah yang telah ditimpanya. Semoga kejadian ini tak akan terulang lagi.
    Kita sering lupa bahwasannya perkataan yang dilontarkan justru dapat mencelakakan teman kita sendiri. Sehingga berhati-hatilah dalam berbicara dan ucapkanlah perkataan yang baik. Karena Rasulullah bersabda: “Seorang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, suka berkata keji, dan suka berkata kotor.” (HR. at-Tirmidzi no.1977, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
    Perkataan atau kalimat yang baik ibarat pohon tinggi yang kokoh. Sedangkan perkataan atau kalimat yang buruk ibarat pohon runtuh. Itulah gambaran yang diberikan Allah SWT dalam firman-Nya, Q.S.Ibrahim ayat 24.
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ. تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ. وَمَثلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِن فَوْقِ الأَرْضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٍ. يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَآءُ
“Tidakkah kalian perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Allah. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang tercerabut akar-akarnya dari bumi, tidak dapat tegak sedikit pun. Allah meneguhkan iman orang-orang beriman dengan ucapan yang tegas itu dalam kehidupan dunia dan akhirat dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa saja yang Dia kehendaki.” (Q.S Ibrahim :24-27)
Seorang muslim yang baik diantaranya tidak akan mencelekakan temannya sesama muslim. Oleh karena itu berbicalah dengan perkataan yang baik. Mulutmu dapat menjadi terkaman bagi orang lain. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang mukmin. Tidak mencela, tidak melaknat, tidak berkata keji, dan tidak berbicara kotor.
Wallahu a’lam ….
PS:
Based on True Story in Assalaam
XI SMA
Rayon 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!