Sastra dan seisinya

Gusar

boleh tidak jika aku berpura-pura untuk tidak tahu? atau kamu memang sengaja selalu menyebut namaku? berlari ke arahku? kau tanyakan semuanya kepadaku? aku yakin karena kamu kira aku akan melakukan apa saja untukmu.
boleh aku mengeluh?
aku tahu itu yang tidak boleh dilakukan. kata ibu, dulu ada perempuan di zaman nabi yang ketika di majelis pipinya tiba-tiba menghitam. ketika ditanya mengapa bisa terjadi seperti itu, inilah kelemahan kaum hawa. salah satu hal yang menyebabkan neraka dipehuni oleh kami. kaum hawa. senang sekali mengeluh. menyebutkan retorika-retorika yang melelahkan. lancar saja bicaranya. pantas saja kaum hawa tak pernah bosan untuk bicara. ternyata bukan berarti kotak suaranya yang besar seperti spongebob namun diam kami pun sebenarnya masih tetap berbicara. entah itu enggan, mengeluh, memadukan nama dia yng satu dengan dia yang lain, atau mungkin untuk sebuah jawaban. yah kamu pasti tahu bukan?
yah begitulah. ketika rasa keputus asaan ini semuanya bercampur aduk. benar-benar tak menentu.
Sumedang, 4 Juli 2014
05.56 (UT+7)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!