Cerita Sekolah

selama OWA III

#secuil cerita
Tak terasa delapan hari berada di TNUK (Taman Nasional Ujung Kulon) telah terlewati. ada beragam cerita dan kejadian menarik yang membuatku teringat-ingat dengan tempat itu. disanalah aku benar-benar merasakan pahit manisnya lapangan. mungkin belum seberapa dibanding dengan kegiatan lapangan seperti ekspedisi-ekspedisi bersama tentara atau tim-tim lainnya yang biasanya memakan waktu hingga berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. baru kali ini, dalam delapan hari saja mampu membuatku berkata,
“untuk pertama kalinya aku merindukan jatinangor.”
aku tidak berharap lebih. entah tempat penginapan yang bagus, sejuk, atau apalah itu yang membuatku nyaman disana. ternyata benar. fasilitas memang tidak memadai. kamar mandi tidak bisa dipakai untuk buang air besar. satu kamar dipaksakan harus terisi oleh 9 orang dengan 12 carier. sinyal tidak ada. namun aku bersyukur, karena kami masih diberikan kesempatan untuk menikmati Oryza sativa. dan bagaimana pun juga disanalah letak sensasinya.
mendata keanekaragaman kupu-kupu dan capung di gunung honje, curug cikacang, dan pematang jogol bersama tim entomologi memberikan banyak pelajaran. kadang langit yang tak mendukung, hujan deras, menanti Troides hingga berjam-jam, melewati sawah yang panjang nan kering, sendau gurau, ahh masih banyak!
aku memang tidak tahan berlama-lama di lapangan. tapi aku suka. berjalan, menghirup udara segarnya Oksigen yang benar-benar ‘baru’ dikeluarkan melalui celah bibir stomata. segarnya!
cerita lain:
di mes, baru dua hari, aku mendapat julukan sebagai bu haji oleh bapak-bapak penunggu mes LG Pakis. katanya si, karena baru pertama kali melihat ada perempuan yang memakai rok ke lapangan. tenang, aku tidak bermaksud pamer. aku saja kaget mendengar alasan itu. ternyata benar seperti apa yang dikatakan oleh pak hasan dan pak saad,”perempuan yang memakai rok itu lebih rapih.” 🙂
dua hari terakhir. ada salah seorang temanku yang katanya tidak sengaja ‘membuang’ sampah pencernaanya ke dalam kloset kamar mandi yang berlabelkan tidak dapat digunakan untuk buang air besar (red: defekasi). dan hal yang tidak diinginkan pun terjadi. selama dua hari itu, bahkan tidak ada yang mau masuk walau sekedar mencuci tangan. sampahnya memang hilang, tapi baunya masih saja menyergak pernapasan. ah, bahkan efeknya hingga ke ruang tengah, ruang makan, benar-benar kacau! habis-habisan ‘doi’ di bully.
entah bagaimana ceritanya, bahasa pun terpengaruh. ada beberapa teman setim, yang tadinya sundaneese jadi javaneese. tim lainnya, menjadi makasarneese dan papuaneese. semoga saja itu bukan pengaruh dariku, yg jawa dan papua.
berjalan pulang pergi hingga berpuluh-puluh kilometer memang sudah biasa dilakukan oleh sebagian dari kami. tidak hanya sebatas ilmu dalam ekspedisi ini yang didapat, selain canda tawa, saling tolong menolong di lapangan, sambutan warga, beragam aktivitas lainnya : masak, mencuci, tidur, antri mandi, dll, belum lagi dengan gas beracun sana-sini yang lewat dengan seenaknya.
ah, ini benar. aku tidak bohong.
11-18 Agustus 2014
Observasi Wahana Alam III
DP 35
HIMBIO UNPAD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!