Cerita Sekolah

Generasi yang Dinanti

ada sebuah cerita tentang seorang teman yang kini kuliah di sebuah universitas ternama jawa tengah. awalnya saya pikir, di universitas tersebut dia menjalankan kuliahnya baik-baik saja, ternyata setelah kemarin bertemu ada suatu hal yang membuat saya bertanya-tanya. lingkungan memang mendukung, suasana ruhaninya dapat, pergaulannya juga aman. tapi tidak dengan hatinya, begitu kata teman saya. sekalipun universitas ternama, jurusan terbaik, dan dijamin orang-orang didalamnya adalah kaum berotak pandai, tapi hal tersebut tidak berarti apa-apa jika masih saja mengabaikan kejujuran.

memegang prinsip tentang kejujuran memang sulit, siapa bilang mudah?

saya tidak sedang menceramahi orang-orang yang membaca tulisan ini, toh kita semua sama. sama-sama manusia yang tidak luput dari salah dan lupa. tapi kalau salah dan lupa melulu, masih berani menyebut dirinya manusia? yah kasarnya si begitu. saya begini juga sedang refleksi diri.toh semua orang yang katanya berilmu, juga perlu diingatkan bukan?

apa yang disebut dengan kejujuran bukan sekadar tidak berbohong, tidak korupsi, atau tidak berdusta. hal yang katanya paling sepele adalah meminta jawaban. saya ingat betul dulu ketika MTs, ada seorang ustadzah yang tidak pernah bosan-bosannya untuk mengingatkan. orang yang meminta jawaban akan terjadi jika ada orang yang memberi jawaban. katanya sih itu semacam simbiosis yang sifatnya buruk.

lalu bagaimana ceritanya jika anak SD saja sudah berani seperti itu. atau belum lagi dilanjut dengan SMP dan SMA. masih melakukan hal-hal tersebut. katanya, kita adalah generasi yang dinanti. generasi yang mampu membawa nama harum bangsa, begitu kata guru-guru yang sering saya dengar. tapi ternyata, dari kecil saja benih-benih koruptor sudah tumbuh. lalu mau jadi apa generasi yang katanya dinanti ini? saya pikir, tidak perlu lagi ada yang namanya generasi kalau masih bobrok seperti ini. sepele memang, tapi efeknya akan besar. apalagi kalau mengaggap bahwa contek-menyontek itu biasa, semacam silaturahim (mungkin) ? Ah, sudah bahaya juga ya pemuda sekarang.

Kalau Indonesia dianugerahi dengan bonus demografi, dimana jumlah penduduk usia produktif akan berlimpah maka dengan generasi yang seperti ini, negara kita bisa saja dipenuhi oleh generasi-generasi belum ber-‘aqil mungkin ya. karena kalau memang benar-benar sudah ‘aqil, seharusnya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar.

bagaimana?


ini sekadar curahan pikiran dari hasil obrolan dengan teman. tinggal kita mau memilih menjadi generasi yang bagaimana. oke?

Jatinangor, 30 Januari 2015
18.06 wib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!