Cerita Sekolah

Waiting: Surat di Ruangan Krusial

lanjut dari kisah penantianku hari itu. saat surat pengantar sponshorship benar-benar berada diambang batas. sesuatu yang tidak pasti tapi tetap berada dalam pengharapan besar.surat itu seharusnya sudah kupegang hari ini. tapi masih saja ngadat. heran. mau sampai kapan?
aku harus memasang wajah bahagiaku untuk menyapa sang penunggu ruangan itu. bagiku ruangan itu sangat krusial. bagaimana tidak, mungkin mahasiswa yang datang kesana hanya karena sebuah “kepentingan tersendiri”. jujur saja, cukup menegangkan. andai aku bisa berbahasa sunda, mungkin suasana akan lebih mencair. banyak sekali yang tak kumengerti dari apa yang dikatakan orang-orang disana. ahh sudahlah, tak begitu penting.
siang itu, aku lagilagi memberanikan diriku untuk menagih surat itu. dari pagi sampai siang, sudah lebih dari dua kali aku datang dan menginjakkan kakiku di ruangan itu. sudahlah kau tak perlu tanya seberapa sering aku kesana. tanyakan saja pada orang-orang yang mungkin lebih berpengalaman dariku.
“pak mau tanya, suratnya udah belum ya pak?”
“tintanya abis neng.”
aku menarik napas. tadi pagi permasalahnnya karena dosen yang harus menandatanganinya belum hadir. sekarang, dosennya ada tapi tintanya tak ada. oh ya Alloh, apalagi rencanaMu yang akan kau berikan? inikah hadiah untukku?
“ayolah pak diisi.”
“bentar ya neng.”
di dalam ruangan itu terdapat tiga orang bapak. aku yakin betul ketiganya mengenalku.
sambil menunggu diisi atau saat salah satu bapak kembali membenarkan surat yang harus dibuat, aku bertanya sesuatu. pertanyaan yang selama ini membuatku penasaran.
“pak kenapa si birokrasi jurusan kita asa gimana gitu. kayak beda dari jurusan lain. asa riweuh sendiri?”
“gimana maksudnya? bapak gak ngerti.”
“ya gitu pak.”
“loh, neng gak boleh menyalahkan irokrasi neng.”
“ya gimana gak nyalahin pak, rasanya tu sedikit-sedikit salah. perasaan udah sesuai dari apa yang di SOP kan.” atau ini hanya perasaan saja? batinku.
“ketika neng menyalahkan birokrasi berarti neng menyalahkan sistem. berarti neng juga menyalahkan orang didalamnya.”
“saya gak nyalahin orang yang bekerjanya kok pak.”
“wah neng harus belajar lagi. sistem kan merupakan kesatuan dari orang-orang yang bekerja didalamnya”
aku diam. tak lagi melanjutkan bantahanku. teringat pelajaran PKn ketika MTs. sistem adalah……. kini aku benar-benar mengingatnya.
“bapak juga capek neng. mahasiswa kalau mau ngasih surat sukanya gak sekalian. tiba-tiba ada yang menyusul lampirannya. entah ketinggalan lah atau berubahlah. ya makanya dari jurusan juga jadi lambat.”
“oiya pak. maaf. tapi waktu itu saya pernah diomelin sama fakultas. gara-gara yang dikasih jurusan gak sesuai sama yang diminta fakultas. ya saya bilang saja kalau itu bukan masuk lingkup saya. saya kan sebatas mengajukan permohonan pembuatan surat pengantar dari jurusan untuk fakultas. jadi saya gatau. eh tapi bapaknya sana terus weh nyalahin. kan gemes pak.”
ketiga bapak tertawa. malah celoteh “terus pak terus sampai nangis” huh
“ohh, itu berarti bukan salah neng. biar lainkali bilang ke bapak. nanti sama bapak diluruskan. iya bener bukan salah neng.”
“tapi kan pak saya jadi disalahin terus. kalau ketemu bapaknya jadi gimana gitu.” (Astaghfirullah) ini curcol berat namanya!
“iya neng ini jadi pelajaran aja. neng belajar tentang birokrasi dan sistem biar kedepannya bisa lebih bagus. gak dadakan jadi dari jauh-jauh hari acara bisa lancar. sama kayak bapak. bapak juga belajar dari neng. belajar SABAR menunggu bapak. padahal bapak lagi sibuk ama urusan lain.”
cheeessss… beneran dah. pikiranku sekarang benar-benar tercampur aduk. antara penantian yang tak pasti dan pemikiran idealisku yang tiba-tiba saja tergambar jelas dalam bayanganku.
“acara selanjutnya tak boleh seperti ini!” batinku. ya bagaimana mau maju? kita saja sudah capek diawal. gimana mau maju? seakan-akan semua terhambat disini. ya di ruangan ini. krusial.
kali ini aku hampir nangis. entah kenapa akhir-akhir ini mata susah sekali diajak kompromi. seperti menonton film anime. mendengar kata-kata yang mengharukan saja mata benar-benar ditalukan oleh hati. biasanya teman-teman menjulukiku sebagai “cewek strong”, mungkin sekarang aku harus pensiun dulu dari julukan itu.
singkat cerita, aku berhasil menahan air mataku. menanyakan kepastian akan datangnya surat itu. ya hari senin. surat itu sudah harus kupegang. “tolong ya pak.”
aku keluar dari ruangan itu. sebenarnya aku tak sendiri. aku bersama pak-ketu. tapi hanya aku yang masuk kedalam. mungkin pak ketu pernah trauma karena diusir oleh sang bapak dari ruangan itu.
“gimana zif? apa katanya?”
ya aku diam. fokus berjalan menuruni tangga. aku duduk di sebuah tempat. ketika aku membuka mulutku untuk menceritakan kejadian tadi. entah kenapa tiba napasku sesak. sekan ada yang menghambatnya. semuanya penuh. ya penuh sesak dalam dadaku. apa ini karena tadi? padahal perkataan bapak tadi bukanlah suatu perkataan yang menyakitkan. aku tak dimarahinya. hanya dinasihati. justru aku mendapatkan banyak pelajaran. lalu kenapa? apa mungkin ini karena penuhnya pikiranku dari berbagai hal. pelajaran? tugas? idealisme? ekspetasi yang besar? rasa bersalah? usaha? bagaimana dengan hal-hal lainnya, tabungan akhiratku? saat itu juga semua berkumpul. seakan-akan mereka mengadakan konferensi antara siapa yang lebih penting untuk dipikirkan. aku berusaha menahannya. tapi sia-sia. meledaklah semua. kuyakin kau pasti tahu apa itu. sampai akhirnya aku benar-benar lega.
katanya,”mba jipeh harus kuat :)”
ya itu benar. ini belum apa-apa. baru begini saja sudah capek. inget kata bapaknya kalau ini adalah indahnya sabar. sabar bagaikan bakal buah yang nantinya akan dinikmati betapa lezatnya buah dari kesabaran itu.
ya aku percaya.
banyak kejadian aneh dan konyol. kejadian yang tak diduga atau mungkin tak pernah kubayangkan sebelumnya. bahwa kehidupan mahasiswa memang lebih runyam. atau pemikiranku yang sudah berkelana entah kemana. barangkali ini yang diebut pembelajaran.
saat aku membuat kesalahan pada senior. atau ceplas-ceplosku yang kupikir itu kadang menyakitkan walau hanya gurauan.
apapun itu.
permintaan maafku.
kesalahanku.
setiap orang memang tak pernah luput dari salah dan lupa.
walaupun begitu aku punya obatnya.
memaafkan dan meminta maaf.
terimakasih…..
Jatinangor, 12 April 2014
UT+7
10.09 WIB
aku dan yang ada di otakku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!