Sastra dan seisinya

Taat

hai langit. hai bintang. hai angin. hai hujan. hai orang-orang langit!
malam ini aku mendengar dendangan lagu melalui tepukan rebana. anak-anak itu. rasanya senandung “tola’al badru..” sudah lama tak kudengar. aku merasakan kebahagiaan mereka. sambutan kedatangan untuk sang pembawa cahaya, pemecah kegelapan.
kalau tidak ada para kaum dulu, mungkin tidak ada kaum sekarang. itu kata orang disana. sebenarnya kita kaum yang sama. mau dulu ataupun sekarang, kita umat nabi. kebayang betapa luar biasanya beliau, bahkan saat detik-detik terakhir menginjakkan kaki di bumi, beliau masih sempat mengkhawatirkan kita agar menjadi umat yang taat. umat di masa depan.
sekarang? masih layakkah kita disebut sebagai umat?
sebenarnya mudah. taat. itu cukup menjawab pertanyaan. selebihnya, berkacalah pada diri sendiri. itu saja.
Sumedang, 14 Juni 2014
20.14 (UT+7)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!