Sastra dan seisinya

Rasa, Berbagi, dan Renungan

Dear Allohku sayang,

Apa yang disebut dengan beberapa hari ini ternyata banyak memberikanku macam pelajaran: perjalan (rasa, berbagi, dan renungan). perjalan rasa yang sedikit demi sedikit muncul kini harus disusun dengan baik dan dirapihkan dengan gejolak emosi yang baik pula. rasa tidak perlu dicari, ia akan hadir: menguatkan ingatan. inilah perjalanan rasa. tidak perlu diundang, dan akan hadir dengan sendirinya. tidak terduga. sedangkan perjalanan berbagi pada akhirnya akan memberikan kebahagiaan kepada banyak orang. untukku dan juga untuk kamu yang tahu makna dari berbagi. kebahagiaan ini akan terus hadir dan akan selalu ada dalam benak dan terlukis di bibir. mengapa harus bibir? karena tanpa disadari kita akan tersenyum atau mungkin “senyum-senyum” sendiri mengingat-ingat kejadian yang baru saja dilakukan: berbagi.

Lalu bagaimana dengan perjalanan renungan?

Aku senang bisa menjadi seseorang yang seperti sekarang ini. terimakasih kepada Tuhanku, Alloh, yang membuatku terlahir sebagai seorang per(empu)an. belum lagi Engkau menghadirkanku dua sosok yang teramat indah, yang mendidikku sebagai kakak per(empu)an tangguh. Ah, sungguh nikmat hadiahmu ini.

Menjadi seorang per(empu)an tidaklah seenak orang mengatakan bahwa katanya dengan bangga bisa ‘cuti’ tiap bulan. tahukah hal yang paling sulit dilakukan oleh per(empu)an? Ya, mengendalikan sesuatu yang bernama rasa. mungkin ini sepele, tapi ternyata ini tidak semudah yang dibayangkan. per(empu)an bisa melakukan apa saja sesuai dengan yang diinginkan. semuanya pasti bisa berjalan dengan baik. tapi pada saat ia tidak mampu mengendalikan rasa, hal yang paling berbahaya bisa saja terjadi. dan yang paling tidak mengenakkan adalah “bekasnya” yag akan terus melekat. per(empu)an akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjaga kehormatannya. satu kata: rasa, bisa mengubah segalanya dalam sekejap. bisa mendadak berubah layaknya bunga-bunga harum nan indah. bisa juga mendadak gelap, hitam pekat, buntu tanpa arah. Tuhanku telah menciptakan per(empu)an begitu istimewa. mengalami ragam jenis perjalanan: rasa.

Rasa, Berbagi, dan Renungan.

semua perjalanan ini saling berpadu. masing-masing memliki emosi yang kuat. belajar menata dengan baik. mengawalinya dengan baik dan mengakhirinya dengan baik pula.

Duhai Tuhanku sayang, menjadi per(empu)an adalah kado terindah yang kudapat di umur dua puluh ini. maaf sekali karna mungkin aku baru menyadarinya. aku baru memaknainya lebih dalam. ternyata tidak bisa aku berlama-lama menjadi gadis kecil yang naif dan terbawa arus perjalanan rasa.

Ternyata menjadi per(empu)an adalah sebuah keistemewaan.

Terimakasih Tuhanku, karena aku terlahir sebagai per(empu)an.


Lembang, 9 Januari 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!