Sastra dan seisinya

Impian

barangkali memang begini rasanya tidak diatur. terkadang semena-mena membuat kegiatan tiap waktunya tidak karuan. kini ada hasrat yang bisa kusebut dengan impian.

sebab karenanya, sebuah impian mampu menjadikan diriku bukanlah diriku yang biasanya. ada sebuah perubahan yang amat drastis. semakin aku berazzam untuk meraih impian semakin aku berpikir untuk mencari cara agar mendapat ragam jalan mudah. karena impian, aku habiskan hari-hariku bersama buku. mencari informasi dari internet, berkenalan dengan banyak orang, dan lain sebagainya.

tapi ternyata, sebab impian lah aku semakin tidak memahami cara kerja dalam meraih impian. suatu hari bunda bilang kepadaku,”Nak, sekalipun usahamu terbilang gila atau membuatmu tertatih-tatih tapi percayalah kamu akan melewatkan suatu hal.”

“apa itu bunda?”

“keberkahan. iya, kamu tidak akan mendapatkan berkah dari usaha kerasmu. kamu ingat? ada dzat yang mengatur segalanya. mengatur hidupmu termasuk mengatur apakah kamu dapat atau tidak meraih impianmu. dari sanalah kamu akan mendapat keberkahan. Tuhan, dzat yang Maha menentukan. kalau kamu asingkan Tuhanmu itu, bunda yakin kamu tidak mendapatkan apa-apa sekalipun misalnya impianmu ini tercapai. Cobalah curi perhatianNya, dekati diriNya, raih ridhoNya. agar diam-diam kamu entah tahu atau tidak, Dia akan memperhatikanmu, menyediakan waktuNya setiap saat untukmu.”

…………………………

karena impian. iya, sebab impian pada akhirnya membuatku berubah. perlahan aku belajar tentang mendapatkan ridhoNya, belajar curi-curi perhatian, belajar untuk PDKT. ternyata tidak semudah kubayangkan. apalagi untuk mengulanginya lagi: mendapat keberkahan. aku rindu saat-saat bagaimana kubiarkan bibir ini basah oleh ayat-ayat suci, tangan terangkat untuk takbir, kaki tegap berdiri, sholat yang begitu dalam mendekap sepanjang malam, belum lagi lantai dan dinding-dinding masjid yang tidak lelah menjumpaiku.

sekarang?
membuka quran saja sekadar sewaktu-waktu atau sekalipun membaca pasti ugal-ugalan, sholat sudah seperti olahraga, malam sudah bukan sahabat lagi. serba malas, serba tidak beres. apa mungkin karena kini tidak ada lagi yang namanya impian? apa itu berlaku pada saat tertentu saja?

Jadi mau apa sekarang?

Jatinangor, 3 Februari 2015
21.20 WIB

0 Komentar

  • echo romeo kym

    Ada diujung langi serpihan debu membumbung melingkar malam- dia tak terlihat – diapun tak terbangun kala kokok ayam jantan berkelakar di fajar yang pink- sekeping debu bertaut dengan bintang dan menyibak sisi langit -” ku ingin intip sebatang pohon disurga” katanya – bintang menggelengkan kepala dan berkata “tidakkah kau rasa surga tlah kau bawa serta”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!